Admin faterna

Admin faterna

Quis fringilla quis cursus urna sed sed velit nunc metus condimentum. Et pretium nec magna eros id commodo ligula Phasellus Curabitur wisi. Lacus elit lorem ridiculus vitae tempus eget nibh ut risus et.
12 Februari 2019

Payakumbuh (Faterna). Laboratorium Terpadu Fakultas Peternakan Kampus Payakumbuh melaksanakan praktikum pada Senin (11/02/2019). Laboratorium yang diketuai oleh Prof. Khalil merupakan sarana yang disediakan untuk mahasiswa atau dosen dalam mendukung proses pembelajaran di kampus payakumbuh seperti sebagai tempat Penelitian dan Praktikum Mahasiswa. Laboratorium terpadu mulai beroperasi sejak 2 atau 3 tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 2015. "Sejak mulai beroperasi Kampus Payakumbuh pada tahun 2012, laboratorium Terpadu menjadi tumpuan tempat pelaksanaan praktikum ataupun penelitian mahasiswa sampai sekarang" terang Yulianti Fitri Kurnia, salah satu dosen muda Kampus Payakumbuh.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di Laboratorium Terpadu kampus Payakumbuh diantaranya:

  1. Analisis proksimat lengkap
  2. Pembuatan tepung, analisis material pakan, dan analisis sederhana lainnya. 

Alat-alat yang ada di Laboratorium terpadu seperti:

  1. Oven
  2. Alat Proksimat
  3. Soklet
  4. Labu Keydal
  5. Lemari Asam
  6. Mikroskop
  7. Alat Titrasi
  8. Tanur

Alat-alat yang ada di Laboratorium terpadu tergolong masih sedikit dan belum terlalu lengkap, dan diharapkan kedepannya peralatan pada Laboratorium Terpadu ini semakin bertambah lengkap.

Selain Laboratorium untuk analisa bahan kimia, Fakultas Peternakan Kampus Payakumbuh juga memiliki Kandang Percobaan untuk pemeliharaan ternak seperti Kandang kelinci dan Puyuh.

11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(31/01/2019) Serupa dengan mata uang lain, dollar ialah alat tukar dalam transaksi ekonomi. Memang, seperti lira, pound sterling, ringgit, rupee, dan rupiah, peran dollar mempermudah aktivitas ekonomi. Setidaknya, begitulah pelajaran ekonomi sekolah menengah.

Hanya saja, menurut Anees Ahmed (Daily Sabah 09/01/2019), dollar memainkan peran hegemoni dalam sistem keuangan. Sesuai sistem Bretton Woods (Juli 1944), dollar-emas mendominasi keuangan global, yang mengganti standar emas saja. Dollar jamak berguna pada perdagangan dunia. Tiket pesawat haji dan menjual produksi dalam negeri merupakan teladan mempergunakan dollar. Seolah mata uang ini berubah menjadi produk ekonomi, bukan sekedar alat tukar lagi. Meski, muncul Bank Pembangunan Dunia Baru dan BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan). Sehingga belakangan ini, perang dingin bukan lagi berbasis ideologi, melainkan blok ekonomi.

Pada banyak kasus, peran dollar dominan, malah sebagai ‘ujung tombak’. Anees menulis; “The U.S. has access to the data of SWIFT transactions, which allows it to monitor global financial transactions and to deter any challenges that may harm its national interests. Any country trying to challenge the dollar and shifting to other alternatives is punished severely, particularly in recent history”.

Memang, peran sentral dollar bukannya tanpa tantangan. Kemunculan Euro, jual beli minyak Irak zaman Saddam Husein, dan sanksi ekonomi pada sejumlah negara ialah contohnya. Sesudah Libya, Arab Saudi dan Turki, terakhir ini menimpa Venezuela.

Kemudian, dampak yang terasa adalah dari sistem nilai tukar. Terutama dalam perspektif kronologis. Bandingkan harga ternak dan produk seperti daging, susu dan telur dalam rupiah, beberapa dekade yang lalu. Bandingkan juga dengan alat tukar dollar. Apalagi membanding dengan basis emas.

Soalnya adalah inflasi. Kenapa perubahan nilai tukar mata uang, terjadi ?.  Padahal, barang yang dipertukarkan sama saja. Misalnya sekilo telur banyaknya tetap 16 butir.  Akan tetapi, setelah beberapa tahun untuk membeli 16 butir telur, harganya berubah. Dengan harga mata uang kertas yang sama, kerap sekali semakin sedikit jumlah telurnya.

Kemana selisih atau perbedaan barang itu perginya ?. Siapa yang terima, menikmati dan meraih laba ? Dan siapa pula yang kian miskin papa dan merana lantaran sistem ini ?.

Sumber : https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2255850937989365/

11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(10/01/2019) Ini kerap terjadi. “Tugas (produk) selesai, namun (proses) pemahaman/pengetahuan mahasiswa belum memadai. Bagaimana menjemput kesenjangan pemahaman, meski tugas sudah terlaksana ?. Apa yang hilang dalam proses tersebut ?. Hikmah !.

Ibrahim Kalin menyebutkan, perlu menelaah peran ‘meaning/ makna’ ketika hendak merajut ‘pengetahuan’. Kuncinya, menghindari bertanya ‘apa’. Akan tetapi memulai dengan soal ‘kenapa’. Hal ini menuju pada wujud dari hikmah/ wisdom/ bijak/ elok. Juru bicara presiden Turki itu mengutip bahwa; ‘akar kata hikmah berarti mencegah dan menghentikan’. Hal ini termasuk tindak antisipasi terhadap dungu, ketidakadilan, pelecehan, memandang enteng dan planga-plongo. Elok dan bijak sebagai padanan hikmah, mencegah dua hal; ‘kekeliruan epistemologi dan kejahatan moral’.

Hikmah mencakupi pengetahuan, keadilan, kebenaran, bahagia dan sejahtera. Pengetahuan yang membawa pada ke-elok-an, menggabungkan ‘pengertian dengan kebaikan’. Antara teori dengan praktek. Raso jo pareso. Sehingga orang yang bijak (hakim) mesti bertindak atas dasar pemahaman yang mendalam dan demi ke-elok-an/ perbaikan.


Ada pendapat bahwa, hikmah sebenarnya watak dari Tuhan. Jiwa manusia – yang takkan pernah mati dan memang dititipkan Allah saat usia kandungan 4 bulan 10 hari – cenderung menyukai hikmah. Dengan begitu bijak, elok dan kebaikan bermakna mengetahui ‘realitas sesuatu’ dan bertindak sesuai dengan dan untuk ke-elok-an itu. Maka, ‘Tuhan !, tidak sia sia Engkau menjadikan segala ‘sesuatu’ nya.

Pada saat etika dan budi pekerti hilang, dan tinggal sekedar interpretasi dari ilmu, maka ini merupakan suatu filsafat yang jahat. Sebaliknya kajian filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi mesti diselenggarakan secara terpadu.

Ketika era milenial dan digital – fase teknologi 4.0 – maka, kelimpahan informasi meraja lela. Kehilangan hikmah/ ke-elok-an di-era itu, berarti kehilangan eksistensi diri. Maka, sudah tibakah saatnya kita kembali pada cara berfikir terpadu ?. Berjuta data, tidakkan berarti apa apa. Kecuali mengerucut pada hikmah/ makna yang mendalam. Tak lupa pula, dalam menatap ‘kerakyatan yang di pimpin oleh HIKMAH, kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan’, bukaan ?.

Sumber : https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2243227152585077/

11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(03/01/2019). Baznas adalah kependekan dari badan amil zakat nasional. Satu lembaga yang menfasilitasi perbaikan nasib kaum miskin dan orang orang terlantar. Termasuk merehabilitasi pasca bencana.  Bentuk fasilitasi, diantaranya ialah paket bantuan ternak kambing; dua ekor betina dan seekor jantan. Tentu, buat keluarga kategori miskin. Contohnya seperti di Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat.

Secara teknis, kambing bisa beranak tiga kali dalam dua tahun. Kecuali pada anak pertama, seterusnya kambing kerap beranak kembar. Pendekatan yang berbasis pada keluarga merupakan inti fasilitasi bagi penerima manfaat. Dengan begitu, usaha kambing dapat dikelola oleh semua anggota keluarga; anak anak dan perempuan. Secara sosial budaya, dua sumberdaya (anak dan harta) memang dimiliki oleh wanita (matrilinial). Keadaan topografis daerah yang bergelombang, berbukit, dan gunung (yang tidak datar), relatif cocok dengan ternak kambing.

Begitulah, seputar lima tahunan, satu keluarga di nagari Andaleh telah memelihara 56 ekor ternak. Ini sebuah perubahan atau transformasi nyata. Oleh karena, terjadi pindah kategori; dari miskin menjadi kaya. Dari tiada, menjadi berpunya. Dari penerima; tangan dibawah kepada (semestinya) pemberi; tangan diatas. Sesuai standar, punya 40 ekor kambing sudah wajib berzakat dalam kurun waktu satu tahun. Jadi keluarga penerima paket/manfaat, mesti melakukan transformasi menjadi pemberi paket/ manfaat. 

Soalnya ialah bagaimana proses perubahan mental psikologis berlangsung ?. Ranah afektif (kemauan) dari tiga aspek penilaian Bloom, pada keluarga penerima manfaat. Apa saja langkah kerja fasilitasi yang perlu dilakukan baznas ?. Tidak dalam bentuk teknis memelihara kambing, tetapi proses perubahan mental spiritual. Semacam transformasi dari ‘tangan dibawah menjadi tangan diatas’. Dengan demikian tersedia satu standar kerja untuk direplikasi /diulangi ditempat lain. Sebuah SOP (standard operating procedure) yang bertolak dari bukti nyata. Skim atau alat untuk keluar dari garis kemiskinan. Bukankah ini bisa menjadi judul kajian setingkat pascasarjana ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2238572086383917/