Admin faterna

Admin faterna

Quis fringilla quis cursus urna sed sed velit nunc metus condimentum. Et pretium nec magna eros id commodo ligula Phasellus Curabitur wisi. Lacus elit lorem ridiculus vitae tempus eget nibh ut risus et.
11 Februari 2019

Oleh: Dr. Fuad Madarisa

(09/02/2019) Salah satu ciri masyarakat dunia ketiga bagi Freire adalah ‘bisu’ atau tidak berani. Selain tidak independen, mereka susah mengungkapkan gagasan. Padahal ini dasar dari ekonomi kreatif.  Apalagi dengan bahasa dan cara mereka sendiri. Jika ada yang tampil, kerap menggunakan kata dan bahasa orang lain. Sering pula seperti ‘sibisu bermimpi’.

Keadaaan ini, bagi pendeta berjubah merah itu, ialah sebuah ketertindasan. Kita harus tampil tanpa tedeng aling aling mengatasinya. Seringkali dunia pendidikan formal justru menyumbang bagi kebisuan itu. Disini kelebihan Freire, idenya menukik menjadi tindakan yang menyadarkan. Malah, Ivan Illich mencetuskan gagasan dengan keharusan untuk ‘bebas dari sekolah (de-schooling society)’. Pada posisi ini, perlu ‘andragogy’, ungkap Knowles.

Akan tetapi, bukankah sebenarnya M. Sjafei di INS Kayutanam, awal abad 20, telah merambah sekolah untuk menjadikan peserta didik bebas, berani dan independen. Sayang naskah tulisan Sjafei belum ditulis dengan bahasa internasional. Padahal kecemerlangan gagasan dan buah tangannya, tidak banyak beda. Soalnya ialah dari mana, berani untuk menjadi bebas, merdeka dan independen bisa diraih ?.

Ada dua model dalam hal ini. Pertama, Anwar Ibrahim, anggota parlemen dari Port Dickson Malaka, Malaysia. Setelah ia berliku dari penjara kepenjara. Ia mengutip surat Kahfi tentang pemuda yang amat berani (Q 18: 13-14). Mereka adalah pemuda pemuda yang beriman kepada Tuhannya. Dan Kami beri mereka bimbingan dan banyak lagi. Kami kuatkan hati mereka, ketika mereka berdiri. Dan berkata; Tuhan kami adalah Tuhan pemilik langit dan bumi.

Kedua, Recep Tayyip Erdogan, presiden Turki. Ia mengutip surat (Q 9:40) sebagai sumber keberanian. Ketika Muhammad dan Abubakar sedang dalam hijrah, di bukit Tsur, lantaran dipersekusi oleh kaum Quraish. ‘Janganlah bersedih hati, Sungguh Allah beserta kita”. Itulah sumber keberanian, yang ditransformasi menjadi semangat mandiri rakyat Turki. Tentu dengan kemampuan orasi dan bukti.

Apalagi bila disimpul dengan (Q 8;30). Ingatlah ketika kaum kafir membuat makar, persekusi, menangkap, membunuh dan mengusirmu. Mereka membuat rencana, Allahpun membuat rencana. Tapi Allah yang paling baik dalam membuat rencana !.  Jadi, mari berani menghindari penindasan yang memanfaatkan ketidak-tahu-an, bukaan ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2262024607371998/

11 Februari 2019

Padang (Faterna). Komunitas Nagari Taranak (KONTER) mengadakan sebuah diskusi dg topik Sate kondiak dan implikasinya terhadap perkembangan  peternakan Sumbar di XD HOUSE cafe, jl. M. Hatta no. 111, Kapalo Koto, Pauh Padang pada Kamis, 7 Februari 2019. Diskusi ini merupakan yang perdana di lakukan oleh KONTER. Pada kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Peternakan Unand, Prof. James Hellyward, diundang untuk memberikan kritik dan saran sekaligus membuka acara tersebut. Acara dihadiri Perwakilan dari Kadisnakeswan Sumbar, Perwakilan Disperindag, Anggota DPRD Kota Padang, Dosen Fakultas Peternakan Unand, owner Sate KMS, Pusat Kajian Peternakan dan Perikanan Unand, LPPOM MUI, BEM KM Unand, BEM KM Faterna, HIMAPET, Mahasiswa HMI, Asosiasi dan pemerhati Peternakan. 

Berita terkait sudah dipublikasikan pada media cetak, seperti lampiran berikut :

11 Februari 2019

Padang (Faterna). Para Dosen Purna Tugas Fakultas Peternakan Universitas Andalas mengunjungi Teaching Farm yang ada di UPT Fakultas Peternakan Universitas Andalas kampus Unand Limau Manis Padang pada Minggu, 10 Februari 2019. Kedatangan para dosen purna tugas faterna tersebut berhubungan dengan datangnya beberapa sapi bantuan Wakil Presiden Republik Indonesia ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas dan hasil kerjasama dengan PT. Charoen Pokphand Indonesia berupa kandang Close House kapasitas 24000 ekor.

Jenis sapi bantuan yang datang yaitu sapi simmental dan sapi lokal (sapi pesisir). Sapi bantuan Wapres RI untuk Faterna Unand sebanyak 25 ekor terdiri dari :
1. Simental jantan      =  3 ekor
2. Simental betina      =  5 ekor
3. Sapi Pesisir jantan   =  2 ekor
4. Sapi pesisir betina   = 15 ekor

Para dosen purna tugas menikmati kunjungan tersebut terlihat dari senyum yang terpampang di raut wajah mereka. Kedepannya para dosen purna tugas menitipkan perjuangan pendidikan peternakan ke generasi sekarang untuk tetap berupaya mengembangkan peternakan demi kemajuan bangsa. Dekan Fakultas Peternakan, Prof. James Hellyward, menyampaikan terima kasih kepada dosen purna tugas Faterna atas kunjungan yang telah dilakukan dan mendoakan semoga para sesepuh pejuang pendidikan Faterna tersebut selalu dalam keadaan sehat Wal'afiat.

11 Februari 2019

Padang (Faterna Unand). Sebanyak 25 ekor Sapi Bantuan Wakil Presiden Republik Indonesia telah sampai di Fakultas Peternakan Universitas Andalas pada Sabtu, 9 Februari 2019, pukul 21.00 WIB. Sapi-sapi tersebut dibawa dari BPTU-HTP Padang Mengatas Payakumbuh ke UTP Farm Experience Fakultas Peternakan Kampus Unand Limau Manis Padang. Proses pengangkutan berlangsung dari pukul 13.00 WIB menggunakan truk sapi dan di kawal oleh Voorijder dari Pihak Kepolisian untuk keamanan selama perjalanan.

Sapi bantuan Wapres RI untuk Faterna Unand sebanyak 25 ekor terdiri dari :
1. Simental jantan      =  3 ekor
2. Simental betina      =  5 ekor
3. Sapi Pesisir jantan   =  2 ekor
4. Sapi pesisir betina   = 15 ekor

Bantuan sapi ini merupakan tindak lanjut hasil pertemuan Dekan Faterna Unand Prof. James Hellyward dengan Wakil Presiden RI yang bernama lengkap Dr.(H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla pada tahun 2017. Bantu sapi ini diharapkan dapat digunakan oleh seluruh civitas akademika Fakultas Peternakan Universitas Andalas, baik dosen maupun mahasiswa, untuk media pembelajaran dan penelitian.

Kedepannya diharapkan dengan bantuan ini, Fakultas Peternakan Universitas Andalas dapat melaksanakan amanat Wapres RI dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional terutama terhadap penyediaan sapi unggul (Simmental) dan sapi lokal (sapi pesisir) untuk wilayah sumatera bagian tengah. Sapi Simmental sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Sumatera Barat dan menjadi unggulan oleh peternak-peternak lokal bahkan dinas-dinas terkait sudah membuat acara rutin tahunan seperti kontes ternak yang bertujuan untuk memperagakan sapi-sapi hasil peliharaan masyarakat yang memiliki bobot teritinggi. Sedangkan Sapi Pesisir, merupakan plasma nutfah Sumatera Barat yaitu sapi lokal yang berasal dari daerah Pesisir selatan, yang kualitasnya tidak kalah sama sapi Bali.