Admin faterna

Admin faterna

Quis fringilla quis cursus urna sed sed velit nunc metus condimentum. Et pretium nec magna eros id commodo ligula Phasellus Curabitur wisi. Lacus elit lorem ridiculus vitae tempus eget nibh ut risus et.
11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(03/01/2019). Baznas adalah kependekan dari badan amil zakat nasional. Satu lembaga yang menfasilitasi perbaikan nasib kaum miskin dan orang orang terlantar. Termasuk merehabilitasi pasca bencana.  Bentuk fasilitasi, diantaranya ialah paket bantuan ternak kambing; dua ekor betina dan seekor jantan. Tentu, buat keluarga kategori miskin. Contohnya seperti di Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat.

Secara teknis, kambing bisa beranak tiga kali dalam dua tahun. Kecuali pada anak pertama, seterusnya kambing kerap beranak kembar. Pendekatan yang berbasis pada keluarga merupakan inti fasilitasi bagi penerima manfaat. Dengan begitu, usaha kambing dapat dikelola oleh semua anggota keluarga; anak anak dan perempuan. Secara sosial budaya, dua sumberdaya (anak dan harta) memang dimiliki oleh wanita (matrilinial). Keadaan topografis daerah yang bergelombang, berbukit, dan gunung (yang tidak datar), relatif cocok dengan ternak kambing.

Begitulah, seputar lima tahunan, satu keluarga di nagari Andaleh telah memelihara 56 ekor ternak. Ini sebuah perubahan atau transformasi nyata. Oleh karena, terjadi pindah kategori; dari miskin menjadi kaya. Dari tiada, menjadi berpunya. Dari penerima; tangan dibawah kepada (semestinya) pemberi; tangan diatas. Sesuai standar, punya 40 ekor kambing sudah wajib berzakat dalam kurun waktu satu tahun. Jadi keluarga penerima paket/manfaat, mesti melakukan transformasi menjadi pemberi paket/ manfaat. 

Soalnya ialah bagaimana proses perubahan mental psikologis berlangsung ?. Ranah afektif (kemauan) dari tiga aspek penilaian Bloom, pada keluarga penerima manfaat. Apa saja langkah kerja fasilitasi yang perlu dilakukan baznas ?. Tidak dalam bentuk teknis memelihara kambing, tetapi proses perubahan mental spiritual. Semacam transformasi dari ‘tangan dibawah menjadi tangan diatas’. Dengan demikian tersedia satu standar kerja untuk direplikasi /diulangi ditempat lain. Sebuah SOP (standard operating procedure) yang bertolak dari bukti nyata. Skim atau alat untuk keluar dari garis kemiskinan. Bukankah ini bisa menjadi judul kajian setingkat pascasarjana ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2238572086383917/

11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(24/01/2019) Hidup sehat dan sejahtera menjadi harapan dari semua anggota keluarga. Sesuai (Q15:45-48) diantara indikasi hidup sejahtera ialah; (a) air dan pangan yang berkecukupan (b) bekerja dengan damai dan aman; (c) semangat tetap menyala.

Untuk merasakan hidup sejahtera, kesehatan perlu terjaga. Kemudian pendidikan mendukung perbaikan kemampuan sumberdaya manusia. Hal ini bermuara pada kapasitas lembaga. Disini, pengenalan bioteknologi mempercepat kehadiran solusi masalah pangan. Tentu, sepanjang, adanya dukungan lembaga. Sejatinya saling menghidupi antara lembaga dengan bioteknologi. Itulah, hasil kajian Belfer Center di Universitas Harvard oleh Calestous Juma. Seorang mantan wartawan, asal Kenya.

Rangkaian perhatian pertama, ialah kecukupan air dan pangan. Dalam the guardian, Hannah Gould (2014) menulis sepuluh aspek bagi keberlanjutan pertanian. Khusus kondisi mikro, antisipasi kesediaan pangan, melibatkan tiga hal. Pertama, mengolah dedaunan yang mampu meningkatkan produksi tanaman. Ada tumbuhan yang mampu mencengkram nitrogen dalam tanah. Kemudian, melindungi tanaman terhadap gangguan angin dan erosi air. Akhirnya menyuburkan lahan melalui pupuk organik. Pada banyak contoh, hal ini bisa menambah produksi sampai 2x lipat.

Kedua, petani peternak berskala usaha kecil amat penting untuk keamanan pangan. UMKM memainkan peran utama menjaga kebutuhan makanan pokok. Disamping itu tiap keluarga perlu menyediakan cadangan bahan pangan. Setidaknya untuk meraih indikasi kedua dari bahagia dan sejahtera; ‘bekerja dengan aman dan damai’.

Ketiga, keluarga diperkotaan perlu menyesuaikan dengan kondisi tempatan. Dilahan sempit, perlu mengurangi kebutuhan yang tidak esensil. Mereka bisa mengolah limbah. Setidaknya untuk tanaman sayur dan buah.  

Agar semua upaya terlaksana, maka semangat kuat, yang senantiasa menyala. Dengan begitu tiga indikasi hidup sehat dan sejahtera dapat diwujudkan. Apalagi untuk menatap keDEPAN, yang nampaknya cukup RISKAN. Air dan pangan buat keluarga mesti bisa dijaga. Jadi, sesuai aturan, selama TIGA BULAN, perlu siap siaga, bukaan ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2251888841718908/

11 Februari 2019

Oleh: Dr. Fuad Madarisa

(27/01/2019) Posisi dan peran kambing ditengah masyarakat cukup dilematis. Selain positif, kerap kesan bertendensi negatif. Memang ada yang berfaedah, seperti bulat tahi kambing dan susu kambing (obat). Tetapi, sejumlah istilah membuat ternak kambing menjadi ‘berjarak’ secara psikis. Misal; “kambing hitam (penanggung beban derita), bau kambing (tengik tidak disukai), kandang kambing (centang perenang), dan makan kambing (memilih yang muda dan enak saja)”.

Lebih dari itu gulai kambing juga bermakna ganda. Kesan tinggi lemak, pemicu sakit. Dilain pihak, kecuali bulan puasa, gulai kambing banyak peminat pada hari Jumat. Tentu, ada ‘pemahaman’ yang berlangsung dinamis ditengah masyarakat. Kenapa ada prilaku seperti itu.

Realitas ini perlu dikaji dengan pembandingan kepada hasil uji labor. Antara persepsi masyarakat terhadap produk dari ternak kambing dengan fakta kandungan unsur produk itu sendiri. Jadi, beternak kambing menghadapi stigma pengembangan.

Padahal struktur sosial dan ekonomi, usaha kambing relatif aman. Ia berada dalam genggam dan pengendalian tingkat lokal. Apalagi secara teknis, beternak kambing cepat siklus produksinya. Kambing bisa beranak tiga kali dalam dua tahun. Sesudah yang pertama, kerap beranak kembar. Kambing relatif jinak dan bisa dibawah kendali wanita dan anak anak. Kambing tidak membutuhkan lahan dan kandang yang luas. Jadi, modal usaha lebih sedikit ketimbang ternak besar. Kondisi begini lebih leluasa mengembangkan usaha. Keadaan yang relatif cocok dengan kondisi landscap Sumatera Barat.

Soalnya ialah pendekatan pengembangan. Memang, perlu transformasi kepada ‘memperluas pasar’ ketimbang ‘mendorong produksi’ selama ini. Sehingga, daya tarik pasar yang menghela bagi pembenahan pengelolaan kambing. Celakanya, ada pada stigma pengembangan ternak kambing diatas. Padahal, nabipun juga pernah memelihara kambing.

Maka, paket cerdas melibatkan kolaborasi para pihak perlu dicermati. Seperti: pastikan skim ternak kambing bagi pemulihan bencana yang berkolaborasi dengan BNPB. Paket ternak kambing mengatasi kemiskinan, kerjasama dengan Baznas. Pengolahan kambing menjadi produk kuliner yang khas, sebagai ikon parawisata. Akhirnya, simak kambing Aqiqah dan Qurban, sebagai teladan. Jadi perlu promosi dan kolaborasi yang sinergis – baik kedalam maupun keluar – bukaan ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2253524334888692/

11 Februari 2019

Oleh: Dr. Fuad Madarisa

(03/02/2019) Adanya sate dari daging babi di usaha KMSB Simpang Haru, Padang Timur ternyata tepat. Baik temuan lapangan (Padek 30/01/2019), maupun hasil uji labor sampai pada kesimpulan; ‘spesies babi positif’. Jejaring rantai pasok daging, yang juga disigi, kian menguatkan. Malahan, tempo dan sebaran daging semakin mengkhawatirkan (Padek 31/01/2019).

Tapi, pemerintah kota melalui koordinasi lintas OPD telah sigap dan tidak gegabah bertindak. Tentu untuk menjaga suasana agar kondusif. Terima kasih !. Soalnya ialah, bagaimana mencegah dan merehabilitasi kasus ini ?. Apalagi efek ikutannya melibatkan usaha kuliner dan wisata halal. Intinya kesan negatif, penurunan omzet, peluang kerja dan kesejahteraan. Celakanya, dampak pada parawisata lantaran tiket pesawat mahal dan bagasi berbayar belum reda. Bertubi persoalan menimpa.

Lalu ?. Kita perlu agaknya mencermati pola “ASUH” (aman, sehat, utuh dan halal). Menurut undang undang peternakan dan kesehatan hewan (18/2009) yang sudah dirubah menjadi (UU 41/2014), ASUH terkait dengan pasal 58. Khususnya dua ayat pertama dari empat ayat yang ada.

Ayat (1) berbunyi; ‘Dalam rangka menjamin produk hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal bagi yang dipersyaratkan, Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melaksanakan pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standardrisasi, sertifikasi, dan registrasi produk hewan.

Ayat (2) adalah; Pengawasan, pemeriksaan, dan pengujian produk hewan berturut-turut dilakukan di tempat produksi, pada waktu pemotongan, penampungan, dan pengumpulan, pada waktu dalam keadaan segar, sebelum pengawetan, dan pada waktu peredaran setelah pengawetan.

Dengan begitu, pemerintah memberikan layanan, pengawasan, dan pengaturan yang bermuara kepada rasa aman. Tentu, sesuai persyaratan higiene, halal dan sanitasi sebagai dasar jaminan bagi keamanan produk.

Akan tetapi sebagai konsumen dan pelaku usaha perlu cerdas. Tingkat kepedulian, hati hati dan kecermatan mesti dibenahi. Misalnya, memeriksa bau, bentuk, warna dan masa kedaluarsa. Indikasi kita tidak hanya pada pertimbangan selera. Enak, murah, lekas didapat dan cepat kaya. Melainkan juga pada keberlanjutan usaha, kepercayaan, kejujuran, peduli sesama dan agama. Ya, semacam pendekatan ‘communicative rationality’ dari Jurgen Habermas, bukaan ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2257820297792429/