11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(31/01/2019) Serupa dengan mata uang lain, dollar ialah alat tukar dalam transaksi ekonomi. Memang, seperti lira, pound sterling, ringgit, rupee, dan rupiah, peran dollar mempermudah aktivitas ekonomi. Setidaknya, begitulah pelajaran ekonomi sekolah menengah.

Hanya saja, menurut Anees Ahmed (Daily Sabah 09/01/2019), dollar memainkan peran hegemoni dalam sistem keuangan. Sesuai sistem Bretton Woods (Juli 1944), dollar-emas mendominasi keuangan global, yang mengganti standar emas saja. Dollar jamak berguna pada perdagangan dunia. Tiket pesawat haji dan menjual produksi dalam negeri merupakan teladan mempergunakan dollar. Seolah mata uang ini berubah menjadi produk ekonomi, bukan sekedar alat tukar lagi. Meski, muncul Bank Pembangunan Dunia Baru dan BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan). Sehingga belakangan ini, perang dingin bukan lagi berbasis ideologi, melainkan blok ekonomi.

Pada banyak kasus, peran dollar dominan, malah sebagai ‘ujung tombak’. Anees menulis; “The U.S. has access to the data of SWIFT transactions, which allows it to monitor global financial transactions and to deter any challenges that may harm its national interests. Any country trying to challenge the dollar and shifting to other alternatives is punished severely, particularly in recent history”.

Memang, peran sentral dollar bukannya tanpa tantangan. Kemunculan Euro, jual beli minyak Irak zaman Saddam Husein, dan sanksi ekonomi pada sejumlah negara ialah contohnya. Sesudah Libya, Arab Saudi dan Turki, terakhir ini menimpa Venezuela.

Kemudian, dampak yang terasa adalah dari sistem nilai tukar. Terutama dalam perspektif kronologis. Bandingkan harga ternak dan produk seperti daging, susu dan telur dalam rupiah, beberapa dekade yang lalu. Bandingkan juga dengan alat tukar dollar. Apalagi membanding dengan basis emas.

Soalnya adalah inflasi. Kenapa perubahan nilai tukar mata uang, terjadi ?.  Padahal, barang yang dipertukarkan sama saja. Misalnya sekilo telur banyaknya tetap 16 butir.  Akan tetapi, setelah beberapa tahun untuk membeli 16 butir telur, harganya berubah. Dengan harga mata uang kertas yang sama, kerap sekali semakin sedikit jumlah telurnya.

Kemana selisih atau perbedaan barang itu perginya ?. Siapa yang terima, menikmati dan meraih laba ? Dan siapa pula yang kian miskin papa dan merana lantaran sistem ini ?.

Sumber : https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2255850937989365/

11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(10/01/2019) Ini kerap terjadi. “Tugas (produk) selesai, namun (proses) pemahaman/pengetahuan mahasiswa belum memadai. Bagaimana menjemput kesenjangan pemahaman, meski tugas sudah terlaksana ?. Apa yang hilang dalam proses tersebut ?. Hikmah !.

Ibrahim Kalin menyebutkan, perlu menelaah peran ‘meaning/ makna’ ketika hendak merajut ‘pengetahuan’. Kuncinya, menghindari bertanya ‘apa’. Akan tetapi memulai dengan soal ‘kenapa’. Hal ini menuju pada wujud dari hikmah/ wisdom/ bijak/ elok. Juru bicara presiden Turki itu mengutip bahwa; ‘akar kata hikmah berarti mencegah dan menghentikan’. Hal ini termasuk tindak antisipasi terhadap dungu, ketidakadilan, pelecehan, memandang enteng dan planga-plongo. Elok dan bijak sebagai padanan hikmah, mencegah dua hal; ‘kekeliruan epistemologi dan kejahatan moral’.

Hikmah mencakupi pengetahuan, keadilan, kebenaran, bahagia dan sejahtera. Pengetahuan yang membawa pada ke-elok-an, menggabungkan ‘pengertian dengan kebaikan’. Antara teori dengan praktek. Raso jo pareso. Sehingga orang yang bijak (hakim) mesti bertindak atas dasar pemahaman yang mendalam dan demi ke-elok-an/ perbaikan.


Ada pendapat bahwa, hikmah sebenarnya watak dari Tuhan. Jiwa manusia – yang takkan pernah mati dan memang dititipkan Allah saat usia kandungan 4 bulan 10 hari – cenderung menyukai hikmah. Dengan begitu bijak, elok dan kebaikan bermakna mengetahui ‘realitas sesuatu’ dan bertindak sesuai dengan dan untuk ke-elok-an itu. Maka, ‘Tuhan !, tidak sia sia Engkau menjadikan segala ‘sesuatu’ nya.

Pada saat etika dan budi pekerti hilang, dan tinggal sekedar interpretasi dari ilmu, maka ini merupakan suatu filsafat yang jahat. Sebaliknya kajian filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi mesti diselenggarakan secara terpadu.

Ketika era milenial dan digital – fase teknologi 4.0 – maka, kelimpahan informasi meraja lela. Kehilangan hikmah/ ke-elok-an di-era itu, berarti kehilangan eksistensi diri. Maka, sudah tibakah saatnya kita kembali pada cara berfikir terpadu ?. Berjuta data, tidakkan berarti apa apa. Kecuali mengerucut pada hikmah/ makna yang mendalam. Tak lupa pula, dalam menatap ‘kerakyatan yang di pimpin oleh HIKMAH, kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan’, bukaan ?.

Sumber : https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2243227152585077/

11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(03/01/2019). Baznas adalah kependekan dari badan amil zakat nasional. Satu lembaga yang menfasilitasi perbaikan nasib kaum miskin dan orang orang terlantar. Termasuk merehabilitasi pasca bencana.  Bentuk fasilitasi, diantaranya ialah paket bantuan ternak kambing; dua ekor betina dan seekor jantan. Tentu, buat keluarga kategori miskin. Contohnya seperti di Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat.

Secara teknis, kambing bisa beranak tiga kali dalam dua tahun. Kecuali pada anak pertama, seterusnya kambing kerap beranak kembar. Pendekatan yang berbasis pada keluarga merupakan inti fasilitasi bagi penerima manfaat. Dengan begitu, usaha kambing dapat dikelola oleh semua anggota keluarga; anak anak dan perempuan. Secara sosial budaya, dua sumberdaya (anak dan harta) memang dimiliki oleh wanita (matrilinial). Keadaan topografis daerah yang bergelombang, berbukit, dan gunung (yang tidak datar), relatif cocok dengan ternak kambing.

Begitulah, seputar lima tahunan, satu keluarga di nagari Andaleh telah memelihara 56 ekor ternak. Ini sebuah perubahan atau transformasi nyata. Oleh karena, terjadi pindah kategori; dari miskin menjadi kaya. Dari tiada, menjadi berpunya. Dari penerima; tangan dibawah kepada (semestinya) pemberi; tangan diatas. Sesuai standar, punya 40 ekor kambing sudah wajib berzakat dalam kurun waktu satu tahun. Jadi keluarga penerima paket/manfaat, mesti melakukan transformasi menjadi pemberi paket/ manfaat. 

Soalnya ialah bagaimana proses perubahan mental psikologis berlangsung ?. Ranah afektif (kemauan) dari tiga aspek penilaian Bloom, pada keluarga penerima manfaat. Apa saja langkah kerja fasilitasi yang perlu dilakukan baznas ?. Tidak dalam bentuk teknis memelihara kambing, tetapi proses perubahan mental spiritual. Semacam transformasi dari ‘tangan dibawah menjadi tangan diatas’. Dengan demikian tersedia satu standar kerja untuk direplikasi /diulangi ditempat lain. Sebuah SOP (standard operating procedure) yang bertolak dari bukti nyata. Skim atau alat untuk keluar dari garis kemiskinan. Bukankah ini bisa menjadi judul kajian setingkat pascasarjana ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2238572086383917/

11 Februari 2019

Oleh : Dr. Fuad Madarisa

(24/01/2019) Hidup sehat dan sejahtera menjadi harapan dari semua anggota keluarga. Sesuai (Q15:45-48) diantara indikasi hidup sejahtera ialah; (a) air dan pangan yang berkecukupan (b) bekerja dengan damai dan aman; (c) semangat tetap menyala.

Untuk merasakan hidup sejahtera, kesehatan perlu terjaga. Kemudian pendidikan mendukung perbaikan kemampuan sumberdaya manusia. Hal ini bermuara pada kapasitas lembaga. Disini, pengenalan bioteknologi mempercepat kehadiran solusi masalah pangan. Tentu, sepanjang, adanya dukungan lembaga. Sejatinya saling menghidupi antara lembaga dengan bioteknologi. Itulah, hasil kajian Belfer Center di Universitas Harvard oleh Calestous Juma. Seorang mantan wartawan, asal Kenya.

Rangkaian perhatian pertama, ialah kecukupan air dan pangan. Dalam the guardian, Hannah Gould (2014) menulis sepuluh aspek bagi keberlanjutan pertanian. Khusus kondisi mikro, antisipasi kesediaan pangan, melibatkan tiga hal. Pertama, mengolah dedaunan yang mampu meningkatkan produksi tanaman. Ada tumbuhan yang mampu mencengkram nitrogen dalam tanah. Kemudian, melindungi tanaman terhadap gangguan angin dan erosi air. Akhirnya menyuburkan lahan melalui pupuk organik. Pada banyak contoh, hal ini bisa menambah produksi sampai 2x lipat.

Kedua, petani peternak berskala usaha kecil amat penting untuk keamanan pangan. UMKM memainkan peran utama menjaga kebutuhan makanan pokok. Disamping itu tiap keluarga perlu menyediakan cadangan bahan pangan. Setidaknya untuk meraih indikasi kedua dari bahagia dan sejahtera; ‘bekerja dengan aman dan damai’.

Ketiga, keluarga diperkotaan perlu menyesuaikan dengan kondisi tempatan. Dilahan sempit, perlu mengurangi kebutuhan yang tidak esensil. Mereka bisa mengolah limbah. Setidaknya untuk tanaman sayur dan buah.  

Agar semua upaya terlaksana, maka semangat kuat, yang senantiasa menyala. Dengan begitu tiga indikasi hidup sehat dan sejahtera dapat diwujudkan. Apalagi untuk menatap keDEPAN, yang nampaknya cukup RISKAN. Air dan pangan buat keluarga mesti bisa dijaga. Jadi, sesuai aturan, selama TIGA BULAN, perlu siap siaga, bukaan ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2251888841718908/

11 Februari 2019

Oleh: Dr. Fuad Madarisa

(27/01/2019) Posisi dan peran kambing ditengah masyarakat cukup dilematis. Selain positif, kerap kesan bertendensi negatif. Memang ada yang berfaedah, seperti bulat tahi kambing dan susu kambing (obat). Tetapi, sejumlah istilah membuat ternak kambing menjadi ‘berjarak’ secara psikis. Misal; “kambing hitam (penanggung beban derita), bau kambing (tengik tidak disukai), kandang kambing (centang perenang), dan makan kambing (memilih yang muda dan enak saja)”.

Lebih dari itu gulai kambing juga bermakna ganda. Kesan tinggi lemak, pemicu sakit. Dilain pihak, kecuali bulan puasa, gulai kambing banyak peminat pada hari Jumat. Tentu, ada ‘pemahaman’ yang berlangsung dinamis ditengah masyarakat. Kenapa ada prilaku seperti itu.

Realitas ini perlu dikaji dengan pembandingan kepada hasil uji labor. Antara persepsi masyarakat terhadap produk dari ternak kambing dengan fakta kandungan unsur produk itu sendiri. Jadi, beternak kambing menghadapi stigma pengembangan.

Padahal struktur sosial dan ekonomi, usaha kambing relatif aman. Ia berada dalam genggam dan pengendalian tingkat lokal. Apalagi secara teknis, beternak kambing cepat siklus produksinya. Kambing bisa beranak tiga kali dalam dua tahun. Sesudah yang pertama, kerap beranak kembar. Kambing relatif jinak dan bisa dibawah kendali wanita dan anak anak. Kambing tidak membutuhkan lahan dan kandang yang luas. Jadi, modal usaha lebih sedikit ketimbang ternak besar. Kondisi begini lebih leluasa mengembangkan usaha. Keadaan yang relatif cocok dengan kondisi landscap Sumatera Barat.

Soalnya ialah pendekatan pengembangan. Memang, perlu transformasi kepada ‘memperluas pasar’ ketimbang ‘mendorong produksi’ selama ini. Sehingga, daya tarik pasar yang menghela bagi pembenahan pengelolaan kambing. Celakanya, ada pada stigma pengembangan ternak kambing diatas. Padahal, nabipun juga pernah memelihara kambing.

Maka, paket cerdas melibatkan kolaborasi para pihak perlu dicermati. Seperti: pastikan skim ternak kambing bagi pemulihan bencana yang berkolaborasi dengan BNPB. Paket ternak kambing mengatasi kemiskinan, kerjasama dengan Baznas. Pengolahan kambing menjadi produk kuliner yang khas, sebagai ikon parawisata. Akhirnya, simak kambing Aqiqah dan Qurban, sebagai teladan. Jadi perlu promosi dan kolaborasi yang sinergis – baik kedalam maupun keluar – bukaan ?.

Sumber: https://www.facebook.com/100006934419129/posts/2253524334888692/